Minggu, 11 Oktober 2009

demokrasi Indonesia mengalami kemunduran?

akan dibawa kemana indonesia sekarang? aku merasa sekarang demokrasi sedang mengalami penurunan. Para elite politik telah membagi-bagi kekuasaan. kalau dilihat dari kacamata orang awam sepeti aku ini, kita telah mengalami penurunan. partai-partai yang dului bersaing sekaang tiba-tiba berkumpul menjadi satu, saling bagi-bagi posisi, entahmenteri, kursi MPR dan sebagainya. Memang tujuan dari Partai Demokrat yang dipimpin oleh pak SBY bagus juga, agar pemrintahanmenajdi kuat, tapi saat semua partai bergabung menjadi satu, terus siapa yang menjadi oposisi? siapa yang mengkritik pemerintah? siapa yang memperingatkan dan mengoreksi kebijakan pemerintah?
ternyata kekuasaan itu memang nikmat juga ya>? bahkan keinginan idealis Surya paloh agar Golkar berdisi sendiri ternyata gagal total karena ketua golkar akhirnya menjadi milik Aburizal bakrie.

Aburizal bakrie? hmmm, mungkin dia takut jika berseberangan dengan pemerintah maka kasus lapindo akan menjadi bom waktu menghancurkan dirinya (mungkin lho ya). tapi ya sudahlah, mau bagaimana lagi, inilah indonesia

Jumat, 17 Juli 2009

TANGKAP OTAK PELEDAKAN JW MARIOT

ledakan bom yang mengguncang ibukota kemarin benar-benar merupakan sebuah hantaman bagi bangsa Indonesia. Hal ini benar-benar mencoreng citra Indonesia. Dengan adanya ledakan bom di Mariot dan Ritch Carlton (RC) maka beberapa negara sudah mengeluarkan travel warning ke Indonesia.

Tidak menutu8p kemungkinan travel warning ini akan bertambah mengingat keputusan dua negara tersebut langsung dilakukan dengan cepat setelah terjadi ledakan bom kemarin jumat 17 Juli 2009. Dari korban sementara yang berjumlah 55 orang, sebanyak 18 korban adalah warga negara asing.

pemerintah harus segera mengusut dengan tuntas siapa pelaku ledakan tersebut. Semakin cepat diselesaikan maka tentu semakin baik, dan kepercayaan rakyat maupun negara Indonesia bisa pulih dengan cepat mengingat ledakan tersebut terjadi setelah pemilihan pemilu. Bahkan akibat ledakan tersebut, Tim MU yang sedianya akan bertandang ke Indonesia langsung membatalkan kedatangannya, hal yang tentu saja membuat pihak penyelenggara mengalami rugi besar, yang ditaksir kira-kira 55 miliar.

Apa tujuan dilakukannya bom bunuh diri tersebut. Saya tidak tahu apakah ini berkaitan dengan pilpres kemarin. Saya hanya mengutuk aksi tersebut yang tentu saja merugikan negara secara umum. Akibat yang ditimbulkan dari ledakan ini tidak hanya akan ada di tingkat lokal, namun juga di tingkat nasional. Jika kepercayaan masyarakat internasional terhadap Indonesia terus mengalami penurunan, maka kemajuan di Indonesia juga akan mengalami hambatan.

Kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab terhadap aksi ledakan bom bunuh diri ini, di manakah hati nurani kalian? sadarkah kalian bahwa apa yang kalian lakukan itu telah merugikan negara?
Buat pemerintah, segera tindak siapa pelaku peledakan tersebut dan harus segera diadili, diberi hukuman yang sepantasnya

Senin, 06 Juli 2009

kita butuh presiden Indonesia yang bergerak cepat

halo, tidak terasa sudah saatnya pemilihan presiden tanggal 8 juli ini. jadi deg-degan siapa yang akan dipilih menjadi presiden oleh rakyat indonesia> Apakah akan terjadi pilpres satu putaran atau dua putaran. itu yang menjadi menarik buat aku tulis.
apakah penting pilpres satu atau dua pilihan? dilihat dari sudut pandang mana menurutku, karena tidak ada yang salah satu putaran atau dua putaran. hanya saja dengan melihat adanya tiga calon, sepertinya cukup sulit untuk terjadi pilpres satu putaran. apalagi pamor Sby terus mengalami penurunan.
Dan mungkin karena hal itu pula, maka pasangan capres SBY-boediono berusaha supaya pilpres terjadi dalam satu putaran. Iklan satu putaran gencar kemarin dilakukan yang bertujuan untuk menggiring opini publik bahwa dengan pilpres satu putaran akan menghemat anggaran negara. Denan posisi keunggulan SBy sekarang ini (walau terus mengalami penurunan) maka keterpilihan SBY cukup besar.
Tapi saya juga tidak setuju kalau kemudian alasan yang dikemukakan hanya karena pilpres satu putaran menghemat biaya> bagi saya, tidak masalah apakah pilpres itu satu atau atau dua putaran, sepanjang pilpres dilakukan secara jujur dan adil dan tidak ada kecurangan di dalamnya. karena apa gunanya karena pilpres satu putaran tapi kemudian setelah itu ada kehancuran di dalamnya. lebih baik rakyat yang menetukan pilihan apakah mereka akan memilih satu putaran atau dua putaran.
rakyat sudah tidak bodoh lagi, biarlah rakyat memilih pemimpin yang berkompeten, yang mampu menjawab tantangan yang dihadapi bangsa ini. Siapakah pemimpin itu? menurutku, pemimpin indonesia ke depan haruslah pemimpin yang mampu bergerak cepat, akrena menurutku kita sudah sangat tertinggal dibanding negara-negara tetangga, dan jika kita bergerak lambat, maka yang ada kita justru semakin tertinggal dengan bangsa-bangsa lain. bayangkan saja, jika Malaysia melangkah 3 langkah, kita juga tiga langkah, maka yang ada , jarak yang tetap, bukannya mendekat. Kita butuh pemimpin YANG BERGERAK CEPAT NAMUN JUGA TELITIT DAN CERMAT.
kadang kita harus mengambil risiko dalam mengambil keputusan, apalagi dengan waktu yang terbatas.

Selasa, 09 Juni 2009

antara nadine dan Karenina Miss Indonesia 2009

Sudah tahu siapa miss Indonesia yang terbaru 5 juni kemarin? Sayang saya tidak menontonnya, namun dari beberapa komentar yang saya baca, baik dari media cetak maupun internet, yang menjadi pemenang di Miss Indonesia memang cantik, dan juga cerdas, serta bisa berbahasa inggris dengan baik dan benar.Hal ini tentu menggembirakan, karena untuk bisa bersaing di tingkat internasional, maka penguasaan bahasa inggris adalah perlu, walau tidak mutlak, mengingat Miss World 2008 yang dari Rusia sendiri juga tidak fasih berbahasa Inggris. Yang terpenting adalah kemampuan berbahasa inggris yang baik dan juga cerdas.

Memang harus disayangkan saat Miss Indonesia terpilih Karenina Sunny Halim ternyata tidak fasih berbahasa Indonesia dan juga mungkin tidak memahami kultur Indonesia, namun itu bisa dipelajari. Apa yang akan saya soroti dari hal ini hanyalah, seorang pememang kontes kecantikan di tingkat nasional hendaknya mewakili negara tersebut, memahami kultur dan budaya, dan hal ini sepertinya kurang ada dalam diri Karenina.
Kita tentu saja masih mengingat kontroversi kemenangan Nadine sebagai Putri Indonesia. Nadine memang cantik, bahkan sangat cantik, kecantikan yang mampu memikat para juri untuk memenangkannya, dengan harapan bahwa kecantikan fisik yang dimiliki Nadine bisa memikat dewan Juri Miss Universe. Para juri waktu itu menutup mata terhadap kenyataan, bahwa modal yang dimiliki Nadine waktu itu hanyalah kecantikan belaka, sementara dalam hal kecerdasan, masih ada beberapa peserta putri Indonesia yang memilii kualitas lebih baik dari Nadine. Bukan berarti Nadine Bodoh, tidak, Nadine cukup pandai, bahkan keaktifannya di bidang sosial dan kecintaannya terhadap lingkungan laut membuat saya terkagum-kagum. Namun untuk bersaing di tingkat internasional, bermodalkan kecantikan saja tidak cukup. Ada banyak persiapan yangf harus dilakukan dan itu tidak hanya persiapan fisik semata.

Kita tentu masih ingat, bagaimana kemampuan Nadine waktu ditanya juri dalam pemilihan Putri Indonesia. Terbata-bata, bahkan tidak mampu berbicara bahasa Indonesia dengan baik. Sementara bahasa Inggrisnya? Saya kurang tahu, kalau melihat sekolahnya yang bahasa pengantarnya adalah bahasa Inggris, maka tentu saja seharusnya dia bisa berbahasa inggris dengan baik dan benar, namun fakta di lapangan sewaktu Nadine di wawancara pada juri miss Universe, kemapuannya berbahasa Inggris bisa dibilang lemah. Ya, kita bisa saja berkilah bahwa mungkin Nadine pada waktu itu gugup dan sebagainya, saya bisa menerimanya. Namun pada Intinya, secara paket, Nadine pada waktu itu kurang layak untuk bisa bersaing di tingkat internasional dan penyelenggara putri Indonesia hanya melihat kecantikan fisik semata yang akibatnya justru tidak menghasilkan apa-apa.

Apakah kondisi Nadine sama dengan Karenina? Tentu saja berbeda. Karenina cantik, kemampuannya berbahasa inggris sangat bagus, latar belakangnya sebagai seorang guru dan juga pendidikannya (tidak berasal dari seorang model) sangat mendukung. Karenina tidak hanya mengandalkan kecantikan semata, tapi memiliki kemampuan berbahasa yang bagus, kepekaannya terhadap lingkungan sosial juga baik (setidaknya dilihat dari artikel atau komentar- komentar yang saya baca) dan juga cerdas.

Kalaupun kelemahan yang ada, itu hanya berbahasa Indonesia, yang seakan-akan Karenina tidak mencerminkan orang Indonesia. Hendaknya seorang Miss Indonesia terpilih haruslah memahami budaya memahami bahasa negara yang dia wakili.
Mengapa? Karena di tingkat Internasional, Karenina tidak lagi membawa nama individu, tapi nama suatu negara. Adalah hal yang sangat lucu, kalau seorang peserta mewakili Indonesia tapi tidak memahami keadaan di Indonesia, bahkan bahasa di tempat dia berasal.

Karena itu di sisa waktu yang terakhir, maka penting bagi Karenina untuk belajar lebih dalam lagi mengenai Indonesia sehingga dia bisa menyebut dirinya wakil Indonesia di ajang Miss World ini. Sukses untuk Karenina di ajang Miss World nanti.

Minggu, 07 Juni 2009

kasus prita muliasari, sebuah kesalahpahaman

Prita Muliasari? Siapa wanita ini. Dengan cepat namanya langsung menjadi buah bibir banyak kalangan. Seorang wanita yang sedikit kurang beruntung akibat mengirim email kepada teman-temannya.

Prita menjadi buah bibir setelah dia menumpahkan unek-uneknya di sebuah email kpada teman-temannya karena merasa dirugikan oleh RS. OMNI internasional bulan April 2009. Dalam email tersebut, Prita menjelaskan bagaimana dia merasa dipermainkan oleh RS OMNI. Sayangnya, kemudian pihak RS tersebut mengetahui email tersebut, apalagi email tersebut sudah menyebar luas kemana-mana, dan pihak rumah sakit merasa hal ini merupakan sebuah tindakan pencemaran nama baik. Kemudian apa yang terjadi? Prita akhirnya diseret ke dalam tahanan.

Apa yang salah dengan kasus ini? Apakah salah menyampaikan unek-unek di sebuah email? Bukankah ini seperti kita sedang bergosip dan curhat kpada orang lain, bedanya hal ini disampaiakn lewat dunia maya yang bias dengan cepat berkambang luas? Dan aku berpikir dengan yakin bahwa pihak prita juga tidak berpikir ini akan menyebar dengan sangat cepat, dan aku merasa Ibu prita juga tidak berpikir untuk menjelekan nama baik rumah sakit tersebut.

Bukankah di media cetak konvensional kita sering membaca surat pembaca yang umumnya berisi keluhan dan perasaan kecewa terhadap suatu instansi tertentu yang biasanya ada hak jawab? Mungkin karena keluhan ini berada di dunia maya sehingga pihak Rumah sakit tidak tahu harus bagaimana dalam memberikan hak jawab.

Tapi sungguh sangat disayangkan jika kemudian pihak rumah sakit menempuh jalur hokum dalam menyelesaikan masalah ini ke polisi, karena justru bisa mengakibatkan dua hal, yang pertama, nama rumah sakit justru menjadi semakin jelek di mata masyarakat karena kasusnya di blow up oleh media, yang kedua justru mengakitbakan nama rumah sakit ini dikenal secara luas karena mendapat iklan gtratis dari kasus ini.
Terlepas dari apapun itu, lebih baik masalah ini ahrus dibicarakan secara kekeluargaan, karena aku yakin Ibu Prita juga tidak bermaksud demikian, kesalahpahaman ini harus segera diselesaikan. Sementara itu pihak rumah sakit juga harus meningkatkan rasa profesionalitasnya sehingga kenyamanan konsumen bisa terjaga. Kalau konsumen/pasien terpuaskan dengan pelayanan yang ada, maka yang ada nama rumah sakit atau produsen bisa semakin baik dan mejadi rujukan utama jika dibutuhkan sewaktu-waktu.

Apalagi kalau sampai kasus OMNI dimenangkan oleh OMNI, kemudian bagaimana dengan kebebasan individu dalam berbicara? Memang, kebebasan berpendapat itu ada batas-batasnya, namun kalau terlalu dibatasi, justru mengekang kebebasan berekspresi, apalagi kita berbicara bukan untuk menydutkan , namun untuk tujuan yang positif, sebuah kritik yang membangun demi halyang lebih baik.
Jangan kekang kami dalam berbicara, kami hanya ingin berbicara untuk ebaikan bersama, untuk tujuan yang lebih baik. Terimakasih

Jumat, 05 Juni 2009

Manohara, idol yang baru

KISAH MANOHARA
Saat ini ada dua berita yang paling menyita perhatian bagi kita semua, yaitu menenai kasus dugaan pencemaran nama baik yang dilakukan Prita Muliasari terhadap RS. OMNI internasional dan juga kembalinya Maohara ke Indonesia secara dramatis. Manohara, siapa dia? Siapakah sosok gadis ini sehingga mampu menjadi pusat perhatian sekarang ini. Bayangkan saja, dalam waktu yang singkat dia menjadi sorotan media. Wajah cantik, istri seorang pangeran Malaysia yang teraniaya, itu semua sudah lebih dari cukup bagi media untuk mengekspose kisah tragisnya.

Sangat berbeda jika yang menjadi korban adalah seorang wanita biasa, atau hanya seorang TKI yang mungkin tidak memiliki nilai jual di depan publik. Sebenarnya sih hal yang wajar bagi media untuk mengekspose kisah hidupnya, akrena nilai sebuah berita adalah siapa yang diekspose, dan Manohara adalah seorang model yang menikah muda di usia 16tahun.

Jika kita melihat secara subyektif, maka terlihat bahwa Manohara menikah muda karena keinginan untuk mengejar status. Mungkin memang cinta, tapi mengingat usia yang dibawah umur dan sosok pria yang tergila-gila adalah seorang pangeran yang memiliki uang dan kekuasaan, maka itu sudah mampu menjadi penarik bagi wanita manapun atau ibu manapun untuk menjadikanya sebagai menantu, mungkin seperti kisah sinetron. Dan memang kisah Manohara akhirnya berakhir bak kisah sinetron yang menyayat hati.
Kenapa? Keinginan untuk mendapatkan kebahagiaan di sisi seorang pangeran tidak pernah di dapat, yang ada justru penganiayaan dan kekerasan dalam trumah tangga. Sebuah kesalahan yang akhirnya harus dibayar mahal.

Sah-sah saja jika kemudian kembalinya Manohara itu mampu menarik perhatian media yang kemudian mengeksposenya di depan public, menjadi konsumsi public dan akhirnya idol yang baru.
Hanya saja saya menyesalkan tindakan media yang kemudian mengekspose terlalu besar terhadap kisah hidup Manohara. Memang, manohara adalah warganegara Indonesia yang harus dilindungi jika ada tindakan pelanggaran yang dilakukan kepadanya oleh warga asing,namun porsi yang terlalu berlebihan menurut saya akan berdampak tidak baik, masyarakat menjadi jenuh dengan tayangan Manohara. Bayangkan jika satu stasiun televisi menayangkan kisah manohara setisp saat, padahal ada lebih dari 10 stasiun televise. Dan, menurutku, ini menjadi promosi gratis bagi Manohara untuk mengenalkan dirinya di depan public dan dunia intertain mengingat dirinya memang berniat untuk kembali terjun di dunia model.

Karena ini melibatkan keluarga kerajaan yang memiliki pengaruh dan kehormatan, menurutku, lebih baik adalah jika ini dilakukan secara kekeluargaan, tidak perlu media atau orang luar tahu akan mengenai hal ini, karena membuka masalah di depan public, sama saja dengan membuka aib sendiri mengingat baik Daisy maupun manohara akan sulit membantah bahwa perkawinan yang terjadi hanay sekedar cinta sja, tanpa melibatkan kekayaan dan status.
Bukan berarti tidak menolong Manohara. Tidak, bukan seperti itu, saya bersimpati terhadap hidup manohara dan segala hal yang dia terima, namun saya juga tidak sependapat jika kemudian kasus ini di umbar di depan public, karena sama saja membuka aib, walau saya tidak memiliki hak untuk itu. Seyogianya kedua belah pihak bersikap bijaksana, itu saja pendapat dari saya terimakasih

Rabu, 27 Mei 2009

film india membosankan

Beberapa hari ini, atau lebih tepatnya adalah minggu-minggu ini banyak sekali film india yang masuk dalam stasiun televisi. Setelah lama sekali tidak melihat film india, sekarang kembali lagi muncul lagi film-film india di stasiun TV. Yah, mungkin pihak pengelola TV tahu bahwa karena sudah lama sekali mereka tidak memutar film-film india, maka mereka kembali memutar film india. Terakhir aku melihat film india di TV mungkin tahun 2006 di Indosia, sekarang film India kembali muncul dipioneri oleh TPI, kemudian Indosiar mulai bersiap-siap untuk mengeluarkan film India (walau belum dikeluarkan sih, hanya berupa cuplikan saja).

Hanya saja, aku menjadi sebal dengan para pengelola itu, mereka memberikan cuplikan film India sewaktu adegan nyanyi-nyanyi, bukannya menceritakan film itu berkisah tentang apa. Mereka lebih suka menonjolkan adegan nyanyi dan tari tanpa diselingi dengan cerita yang memadai, mungkin saja film tersebut menarik, namun karena sudah ditayangkan adegan naerinya saja, membuat banyak orang yang malas untuk menonton.

Seharusnya pihak pengelola TV membuat strategi baru untuk menarik lebih banyak penonton film India. Kalau mereka tetap hanya menayangkan adegan nari dan tari, maka penonton film India tidak akan bertambah, melainkan akan berkurang karena tidak adanya regenerasi (mungkin Lho). Lebih baik menonjolkan cerita yang terdapat dalam film india, memberikan cuplikan sewaktu para pemain tersebut sedang berakting, bukan sewaktu menari dan menyanyi. Dengan cara itu mungkin saja orang menjadi tertarik untuk menontonnya, nah, setelah itu kalau para penonton baru itu meononton adegan tari dan nyanyi, maka itu dianggap sebagai bonus saja, karena pada awalnya mereka tertarik disebabkan jalan cerita yang menarik.

Aku heran dengan pola pikir para juragan India yang menayangkan film india di Indonesia ini, menurut mereka, cuikup dengan tarian dan nyanyian sudah cukup menjual, waduh, emangnya kita orang bodoh apa, yang Cuma dijejali nyanyian dan tarian saja. Bukannya aku anti dengan film india, karena aku tidak keberatan dengan film-film musikal, yang ada tarian dan nyanyian seperti layaknya film india, namun aku lebih melihat film itu berdasarkan isinya. Nah, kalau kita hanya disuguhi film-film tanpa menjelaskan ceritanya seperti apa, bukankah itu sama artinya membuat kita menjadi bodoh, yang menyuruh kita menjadi fanatik akan sebuah genre film tertentu? Bagi orang-orang penggemar film india, mereka tidak dibiarkan untuk mengetahui jalan ceritanya seperti apa, yang penting ada film India yang akan ditayangkan di TV tanpa mengetahui jalan ceritanya, yang penting tayangan dengan tarian dan nyanyian? Sadar nggak sih, para penggemar film India dibiarkan menjadi orang bodoh yang terlenba dengan mimpi-mimpi dengan tarian ala India (mungkin bahasaku terlalu berlebihan, sory lo ya).

Yang jelas aku menolak dengan tegas jika stasiun TV menayangkan film India dengan hanya mengandalkan tarian dan nyanyian khas India, dunia sudah mengalami perubahan yang dasyat, termasuk dalam selera film, masyarakat sudah tidak bodoh lagi, mereka bisa memilih film bagus tidak (mungkin!), kalau ingin memutar film India, harus jelas bercerita tentang apa, kalau hanya mengandalkan tarian dan nyanyian, siap-siap saja booming film india di TV akan hilang seketika. Terimakasih karena sudah membaca.

Rabu, 07 Januari 2009

sosialisasikan kondom dengan cara yang benar

Saya ralat masalah kondomisasi, saya harap kalian tidak berpikir bahwa saya kemudian menyetujui program kondomisasi untuk hal-hal ytang baik, karena kecendurngan yang ada adalah, anak-anak muda justru menganggap dengan adanya kondom, maka mereka bebas untuk melakukan hubungan seks bebas, padahal tujuan dari kondomisasi bukanlah untuk melegalkan seks bebas, namun untuk menghindari seks berisiko.

Penting sekali bagi kita agar selalu mengingatkan diri bahwa pemakaian kondom tidak akan menjamin diri kita bebas dari penyakit kelamin, terutama penyakit HIV, karena kondom masih memiliki pori-pori yang bisa ditembus oleh virus HIV. Tingkat kegagalan pemakaian kondom untuk KB adalah 20 persen, padahal kalau diibaratkan, sel sperma itu adalah sebesar jerut purut, sementara virus HIV itu lebih kecil dari sel sperma. Tulisan ini aku buat setelah membaca di harian Republika.

Namun menjadi naif sekali kalau kita menolak kondom. Memang kondom tidak akan menjamin penggunanya akan bebas dari HIV, namun setidaknya penggunaan kondom akan bisa mengurangi risiko terkena virus HIV. Maka dari itu, sosialisasi penggunaan kondom haruslah dilakukan secara gencar terhadap para pekerja seks komersial, dan kelompok-kelompok berisiko lainnya, semisal kaum waria dan homoseksual, karena kedua kelompok terakhir ini menurut saya sangat rentan akan penularan virus HIV mengingat hubungan seks yang dilakukan sangat rentan akan penularan virus HIV.

Menjadi sangat berbahaya jika kemudian generasi muda percaya bahwa penggunaan kondom itu pasti bersih dari HIV, karena sebenarnya ini adalah cara bagi industri kondom untuk memasarkan industri mereka. Kalau kondom laku, tentu saja industri ini akan menjadi senang. Kita harus ingat, dan selalu ingat, bahwa penggunaan kondom itu hanya MENGURANGI risiko terkena HIV, bukan MENGHILANGKAN dan PASTI AMAN dari virus HIV. Karena ini hanya mengurangi risiko, maka yang terpenting adalah tidak melakukan seks berbahaya, namun jika tetep nekat juga, ya gunakan kondom nggak apa-apa, karena itu berarti kesempatan untuk terkena penyakit kelamin, terutama HIV bisa dikurangi.

Sosialisasi kondom yang menurut saya salah adalah apa yang dilakukan oleh selebritis Julia Perez alias Jupe, yang memasukkan kondom dalam kasetnya, karena itu berarti menganggap bahwa orang-orang yang membeli kaset tersebut adalah orang-orang yang tidak bener, yang suka berselingkuh dan doyan “jajan”. Contoh yang lain yaitu pembagian kondom jika ada konser musik (misalnya ada , tapi yang aku baca, ada kok yang seperti itu), karena itu berarti menganggap bahwa semua pengunjung adalah orang-orang yang menyukai seks bebas, seks pranikah dan sebagainya. Padahal kenyataan tidak seperti itu. Sosialisasi kondom haruslah lebih diusahakan kepada kelompok-kelompok berisiko tinggi dengan cara sosialisasi yang benar dan tepat, sehingga tidak menimbulkan gejolak dan pertentangan yang ada di masyarakat. Apalagi kondom sebenarnya pada awalnya dibuat dan disosialisasikan untuk program KB.

Lebih baik kita bersosialisasi agar menghindari hubungan seks bebas, tidak gonta-ganti pasangan, dan lakukan proteksi jika tiba-tiba anda ingin berhubungan seks dengan pekerja seks komersial atau orang-orang yang suka berpetualang seks atau . yah, kalian tahu kan yang aku maksud.

kebijakan kondomisasi bagi pelaku seks komersial

Perkembangan HIV di Indonesia ternyata bukan lagi menjadi sebuah perkembangan penyakit biasa, namun sudah menjadi epidemi nasional. Hal yang sangat merisaukan masyarakat Indonesia karena penyebaran virus dini terjadi pada gernerasi muda yang berusia antara 21 hingga 29 tahun.Sebagai manusia, kita harus melakukan tindakan-tindakan untuk mencegah penyebarab agar HIV tidak semakin meluas.

Sebanyak 60% dari penderita HIV di Jakarta, jawa barat dan Jawa Timur karena pecandu narkoba. Sementara itu di Papua dan papua Barat, penyebaran HIV lebih dikarenakan hubungan seksual, yaitu sebanyak 94%. Dari hal ini diketahui bahwa salah satu cara untuk mengurangi penyebaran HIV adalah mencegah para pengguna narkoba berganti jarum suntik. Hal ini ditanggulangi dengfan cara pemberian jarusm suntik secara gratis, baik di puskesmas maupun di lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Sementara itu, untuk mencegah penyebaran HIV melalui hubungan seksual, bisa dilakukan dengan cara penggunaan kondom. Banyan orang yang berpikiran negatif saat anjuran penggunaan kondom, karena dianggap melegalkan perzinahan. Saatnya kita harus berpikir realistis, bahwa tanpa adanya kondom pun, orang yang berzinah tetap berzinah. Yang justru harus kita lakukan adalah upaya agar orang-orang yang melakukan perzinahan, atau melakukan hubungan seksual berganti pasangan itu tidak tertular/menularkan penyakit, baik penyakit kelamin biasa maupun virus HIV. Hal yang sama juga terjadi saat LSM melakukan pembagian jarum suntik steril gratis. Banyak orang yang berpikir bahwa ini juga akan mengakibatkan banyak anak muda yang akan semakin banyak terjerumus ke dalam narkoba. Kita harus melihat dengan paradigma yang berbeda bahwa justru dengan memberikan jarum suntuk steril kepada para pecandu narkoba, kita membantu mencegah penyebaran penyakit. Bayangkan saja jika kita tidak memberikan jarum suntik kepada para pecandu narkoba, apakah mereka akan berhenti? Kenyataan tidak, mereka tidak akan berhenti. Mereka akan tetap menggunakan narkoba dan dengan cara bergantian jarum suntik. Yang terpenting bagi kita adalah mencegah penularan penyakit. Itu yang harus diutamakan. LEBIH BAIK MENCEGAH TERJADINYA PENULARAN dibandingkan diam tidak berbuat apapun. Tentu saja setelah itu perlahan namun pasti mereka yang menjadi pecandu narkoba akan melepaskan ketergantungan kepada narkoba. Namun itu juga tidak bisa instan, butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa lepas dari narkoba karena yang diserang adalah saraf pusat di otak, sehingga lama sembuhnya. Nah, sembari menunggu kesadaran dari pengguna narkoba itu untuk lepas, maka kita memberikan jarum suntik steril yang digunakan secara individu agar mereka tidak terjangkit penyakit HIV. Karena hampir 80% pecandu narkoba lewat suntuk itu rawan HIV.

Karena itu, bagi mas-mas dan mbak-mbak yang menggunakan narkoba suntik, mbak, beli jarum suntik sendiri ya mbak, jangan menggunakan jarum suntik bareng dengan teman-teman yang lain. Selain itu, buat warga solo lain yang suka melakukan petualangan seks, PAKAI KONDOM DUNK MAS MBAK, BIAR TIDAK TERTULAR/MENULARKAN PENYAKIT BERBAHAYA.

Kenapa? Karena kesadaran orang untuk memeriksakan diri sangat rendah, sehingga orang lebih cenderung untuk tidak mau mengetahuinya apakah mereka mengidap HIV atau tidak, sehingga mereka tidak perlu diliputi rasa ketakutan. Apalagi masyarakat masih mendiskriminasi orang-orang yang terkena HIV. Menurut data dari Komisi Penanggulangan Aids (KPA) penderita HIV dan Aids hanya 21 ribu, namun karena ini adalah fenomena gunung es, maka diperkirakan sebanyak 200 ribu orang terjangkit HIV di Indonesia dan menurut WHO, sebanyjak 270 ribu orang di Indonesia terjangkit HIV. Nah, dengan segitu banyaknya orang yang terjangkit virus ini, maka kita harus melakukan tindakan preventif. Ingat, kita mencegah penyebaran virusnya, bukan orang-orang yang mengidap HIV. Karena itu, saya setuju KONDOMISASI DAN JARUM SUNTIK GRATIS BAGI PENGGUNA NARKOBA.

Kamis, 18 Desember 2008

kesempatan atau krisis?

Ada sebuah perusahaan sepatu yang sedang berkembang pesat di Solo. Sebut saja nama perusahaan itu adalah sepatu Fire. Nah, perusahaan seaptu Fire berniat untuk melakukan ekspansi produk-produknya. Karena merek Fire sudah dikenal luas di Pulau jawa, maka Fire berniat memasarkan produk-produknya di suatu daerah di pulau jawa yang masih cukup primitf, yang belum mengenal sepatu, karena penduduknya masih tokoran alias bertelanjang kaki.

Sang direktur perusahaan kemudian mengirimkan seorang bawahannya untuk menyelidiki peluang di daerah tersebut. Baawahan ini, yang kita sebut saja namanya Wisnu, kemudian pergi ke daerah tersebut selama 2 minggu untuk meneliti prospek pemasaran di daerah tersebut.

Dua minggu kemudian Wisnu kemudian kembali ke Solo. Dia menghadap Bosnya dan menceritqakan tentang kondisi di daaerah itu. Kemudian dia berkata, “ bos, peluang kita untuk memasarkan poroduk Fire di sana akan mengalami kegagalan. Penduduk di daerah tersebut buta huruf, mereka tidak mengenal sepatu. Kemana-mana mereka tidak menggunakan sepatu. Di sana juga tiodak ada listrik dan televisi atau informasi apapun, sehingga penduduk di sana merasa, mereka tidak begit membutuhkan produk seperti itu, karena tidak ada gunanya bagi mereka. Karena itu bos, saya sarankan, sebaiknya kita mencari lahan yang lain saja.”

Sdang bos,masih sangsi dan tidak begitu peduli dengan kata-kata Wisnu. Kemudian bos ini kembali mengirimkan seorang bawahannya lagi yang bernama Danu untuk melihat peluang memasarkan pasar di daerah yang akan di tuju.kemudian, Danu pergi ke daerah yang dimaksud. Dua minggu berikutnya dia kembali dan menemui bosnya.

“Bos, memang benar, di daerah tersebut orang tidak menggunakan sepatu. Mereka bertelanjang kaki kemana-mana, di sana juga belum adqa televisi yang masuk. Dan ini sungguh merupakan pasar potensial bagi sepatu kita. Bayangkan, jika kita mampu memberitahu merreka, bagaimana kegunaan sepatu, agar kaki mereka tidak terkena paku atau untuk mencegah penyakit. Jika kita mampu meyakinkan penduduk, maka daerah itu akan membeli sepatu dari kita, dan kita akan mendapat keuntungan yang sangat besar, karena di sana belum ada sepatu, dan penduduknya sangat banyak.”Sang bos kemudian menyetujui rencana Danu.

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari ilustrasi di atas? Dua masalah yang sama, tidak ada yang salah yang dikemukakan oleh Wisnu dan Danu, namun mereka memiliki cara pandang yang berbeda. Wiusnu memandang dengan pikiran yang negatif, sementara danu justru memandang dari pandangan yang positif. Begitu juga dengan kita, bagaimana kita melihat segala masalah yang terjadi di depan kita, maka tinggal bagaimana kita melihat, apakah kita melihatnya dengan pikiran yang negatif yang merugikan kita, atau melihat dengan pemikiran yang positif, yang menantang diri kita untuk mengubah masalah tersebut menjadi hal yang positif. Di depan kita terbentang berbagai masalah, maka l;ebih baik melihat dari sisi positif dan melihat celah atau kesempatan untuk mengubah masalah itu menjadi kesempatan untuk menjadi berhasil. Dengan melihat dari kacamata positif, kita bisa melihat dengan penuh rasa optimis menjalani masalah yang sedang kita hadapi.